Sabtu, 11 April 2015

pengertian sastra


RANGKUMAN

A.PENGERTIAN SASTRA
Sastra berasal dari bahasa sanskerta, yakni dari kata sas yang berarti mengarahkan, memberi petunjuk atau instruksi, sedang tra berarti alat atau sarana (teeuw,1984). Padahal, dalam pengertian sekarang (bahasa melayu),sastra banyak diartikan sebagai tulisan. Pengertian ini kemudian ditambah dengan kata su yang berarti indah atau baik. Jadi, susastra bermakna tulisan yang indah.
Suatu teks sastra setidaknya harus mengandung tiga aspek utama yaitu, decore  ( memberikan sesuatu kepada pembaca ), delectare (memberikan kenikmatan melalui unsur estetik ),  movere ( mampu menggerakkan kreativitas pembaca ).
B.KONSEP BAHASA SASTRA
            Bahasa merupakan sarana pengungkap sastra, baik tertulis maupun lisan. Sastra, tidak hanya sekadar perwujudan gramatika bahasa, deretan kata, susunan kalimat, dan wacana, namun lebih dari itu. Kelebihan itu memerlukan interpretasi dengan memakai keahlian dan pengetahuan tentang ciri dan gaya bahasa sastra. Sastra sebagai salah satu unsur kesenian, mengandalkan kreativitas dan imajinasi pengarang dengan menggunakan bahasa sebagai media. Walaupun jawaban yang paling tepat terhadap pertanyaan “ apakah sastra ?” belum ada yang memuaskan, namun secara umum dapat dikatakan : sastra itu ada karena pengggunaan bahasa secara kreatif dalam rupa atau wujud yang indah” ( tuloli,1995 ).
C.KONSEP GAYA BAHASA
            Enkvist (dalam Nani Tuloli, 2000 ) mengembangkan beberapa pengertian gaya bahasa sastra :
a.        sebelumnya. Bungus ini adalah cara penyampaian dengan bahasa yang berhubungan dengan wacana yang menimbulkan kesan keindahan.
b.      Pilihan antara berbagai pernyataan yang mungkin. Ada variasi penggunaan unsur bahasa yang dapat dipilih oleh pengarang.
c.       Sekumpulan ciri-ciri pribadi. Gaya memang milik pribadi penulis, sehingga kita bisa membedakan karangan seorang pengarang dengan pengarang lainnya.
d.      Penyimpangan dari norma dan kaidah. Ini ada hubungan dengan kebebasan penyair atau licentiia pooetica.
e.       Sekumpulan ciri-ciri kolektif. Gaya kolektif mancakup gaya sosial, kelompok pengarang misalnya, gaya balai pustaka, pujangga baru, dan angkatan 45.
f.        Hubungan antara satuan bahasa yang dinyatakan dalam teks yang lebih kuat. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan yang kontekstual antara suatu kalimat dengan kalimat yang lain, satu kata dengan lingkungannya.
D.STUDI SASTRA DALAM PERKEMBANGAN
            Studi sastra pada tahun menjelang 1970-an telah berkenalan dengan berbagai teori dari barat. Perkenalan dengan berbagai teori-teori dari barat sebenarnya telah pula terjadi beberapa waktu yang lampau, misalnya melalui pandangan-pandangan plato dan aristoteles.
            Sarwadi ( 1994 ) mengungkapkan bahwa sastra meliputi tiga macam cabang ilmu yaitu : Teori sastra, Sejarah sastra,dan Kritik sastra. Masing-masing mempunyai objek penyelidikan tertentu.
            Kritik sastra adalah cabang ilmu sastra yang mengadakan penyelidikan langsung terhadap suatu karya sastra tertentu. Ia mengadakan pendalaman dan dengan melalui analisis serta penafsiran, kemudian berusaha memberikan suatu penilaian tentang berhasil atau tidaknya suatu kara sastra.
            Teori sastra dapat disebutkan sebagai ilmu yang meneliti sifat-sifat yang terdapat dalam teks sastra dan bagaimana teks tersebut berfungsi dalam masyarakat ( luxemburg,1984 ). Adanya teori sastra akan mempermudah telaah suatu karya sastra secara sistematik sehingga hasil telaah tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
            Teori sastra adalah teori yang mempelajari aspek-aspek dasar dalam teks sastra. Aspek –aspek tersebut meliputi aspek intrinsik dan ekstrinsik sastra. Teori dasar intrinsik sastra berhubungan erat dengan bahasa sebagai sistem, konvensi sastra, kompetensi sastra,konvensi bahasa, sedang konvensi ekstrinsik berkaitan dengan aspek-aspek yang melatarbelakangi penciptaan sastra. Aspek tersebut meliputi aliran, unsur-unsur budaya, filsafat, politik, agama,psikologi,dan sebagainya.
            Sejarah sastra secara universal, sejarah sastra tidak mungin dapat dilepaskan dari teori sastra. Walaupun sejarah sastra hanya sebagai pencatat karya-karya sastra yang ada, keberadaannya ternyata telah memberikan sumbangan yang besar dalam mendeteksi perkembangan sastra.
Berdasarkan aspek kajiannya, sejarah sastra  dibedakan menjadi :
1.      sejarah genre, yaitu sejarah sastra yang mengkaji perkembangan karya-karya sastra seperti puisi dan prosa yang meliputi cerpen,novel,drama, atau sub genre seperti pantun,syair, talibun,dan sebagainya. Kajian tersebut dititikberatkan pada proses kelahirannya,perkembangannya,dan pengaruh-pengaruh yang menyertainya.
2.      Sejarah sastra secara kronologis, yaitu sejarah sastra yang mengkaji karya-karya sastra berdasarkan periodisasi atau babakan waktu tertentu.
3.      Sejarah sastra komparatif, yaitu sejarah sastra yang mengkaji dan membandingkan beberapa karya sastra pada masa lalu, pertengahan, dan masa kini.

E.TEORI UNIVERSE ABRAMS
            Berpijak dari sejumlah kritik sastra yang ada,pendekatan yang paling populer adalah pendekatan yang dikemukakan oleh Abrams dengan teori universe-nya. Menurut Abrams (1979) kritik karya sastra bisa dilihat dari empat elemen utama dari total situasi yang melingkupi sebuah karya. Pertama, dari sudut pandang karya itu sendiri yang merupakan produk pengarang; kedua, telaah dari sudut pengarangnya; ketiga, dari keterhubungan ide,perasaan, atau peristiwa-peristiwa yang mendasari karya yang baik secara langsung atau tidak langsung yang secara esensial pada dasarnya merupakan satu tiruan; keempat, adalah dari sudut pembaca atau penerima. Secara rinci keeempat faktor tersebut oleh Abrams disebut sebagai pendekatan mimesis,objektif, ekspresif,dan pragmatik.
1.      Pendekatan Mimesis : Pendekatan ini bertolak dari pemikiran bahwa karya sastra merupakan refleksi kehidupan nyata.
2.      Pendekatan Objektif : Pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan. Pendekatan yang dilihat dari ekstensi sastra itu sendiri berdasarkan konvensi sastra yang berlaku.
3.      Pendekatan Ekspresif : Pendekatan ini dititikberatkan pada ekstnsi pengarang sebagai pencipta karya seni. Seberapakah keberhasilan pengarang dalam mengekspresikan ide-idenya. Oleh karena itu, tinjauan ekspresif lebih bersifat spesifik.
4.      Pendekatan Pragmatik : Pendekatan yang didasarkan pada pembaca. Keberhasilan satu karya sastra diukur dari pembacanya.